Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Artikel
Judul : Haru-Biru Perfilman Indonesia
Penulis : La Tansa Majalah
Sumber : Http://www.majalah-latansa.com/2008/12/haru-biru-perfilman-indonesia.html
Subjek : [ Tidak dicantumkan ]
Kamis, Desember 11, 2008
Jangan biarkan nasib film Indonesia seperti gedung bioskop kami. Buka mata, buka hati, cintai film indonesia, karena kalau bukan kita siapa lagi?
Sebuah ungkapan pembuka dalam acara Indonesian Movie Awards. Begitu mengharu-biru mengungkapkan sebuah ironi tentang perfilman yang dikhawatirkan akan bernasib seperti sebuah bioskop tua yang rapuh dan penuh bau pesing.
Mengikuti sejarah panjang perfilman Indonesia. Topik lama ini sudah dua dekade lamanya menjadi bahan perbincangan kalangan pemerhati film Indonesia. Film-film Indonesia selama dua dekade ini (1980-an dan 1990-an) terpuruk sangat dalam. Film-film yang dihasilkan belum bisa dikatakan layak untuk dikonsumsi masyarakat –sebagian besar. Dari sisi sinematografi, ideologi, pesan moral dan yang lainnya masih jauh dari yang diharapkan.
Sudah barang tentu kondisi memprihatinkan ini patut mendapat perhatian besar dari anak bangsa, khususnya para sineas dan insan perfilman Indonesia. Menyelesaikan beberapa masalah yang menggelayuti para sineas, UU Perfilman hingga Rumah Produksi kudu dilakukan supaya wajah perfilman nasional bisa semakin terang dan cerah di hari esok.
Produksi Perfilman Nasional
Dulunya, film-film Indonesia mengalami penurunan secara kuantitas maupun kualitas. Secara kuantitas, film Indonesia mengalami penurunan yang cukup signifikan. Berikut ini tabel data jumlah produksi film nasional sejak tahun 1987 yang diambil dari Pusat Perfilman Usmar Ismail:
Dalam catatan sejarah, film dokumenter-lah yang pertama kali diputar di Indonesia. Tepatnya tanggal 5 Desember 1900 di salah satu rumah di Batavia. Film dokumenter itu berkisah perjalanan Ratu Olanda dan Raja Hertog Hendrik di Den Haag. Sedangkan film lokal pertama Loetoeng Kasaroeng oleh NV Java Company dimunculkan baru pada tahun 1926.
Setelah itu, Bapak Film Indonesia, Usmar Ismail membangun studionya pada tahun 1950 dan TVRI (Televisi Republik Indonesia) mengudara untuk pertama kalinya 12 tahun setelahnya. Fakta ini bisa dicermati dari artikel di blog sumpahpramuka.wordpress.com berjudul Fragmented History (2006).
Dalam kurun masa 60-an, perfilman nasional mulai menggeliat walaupun lebih tepat jika dibilang kembang-kempis. Hal ini terkait dengan suasana politik dan keamanan negeri yang belum stabil. Tentunya sama-sama diingat masa tersebut adalah masa peralihan dari Orla ke Orba yang penuh dengan ketegangan. Arus perfilman kala itu bahkan sangat monoton dan miskin kreasi. Propaganda-propaganda politik dan pembangunan bangsa banyak menjejali isinya.
Baru pada tahun 70-an, produksi film-film Indonesia mulai bernapas. Film-film karya anak bangsa lahir dengan salah satu bintang terkenalnya waktu itu, Suzanna. Namun seiring dengan laju positif tersebut, film-film Hollywood masuk tidak terkontrol dan bersaing sengit dengan film-film lokal. Insan film Indonesia seperti tak bisa berkutik menghadapi arus film impor --meskipun kuota film impor sudah ditekan sedemikian rupa-- yang semakin diminati masyarakat.
Situasi ini menurut Ade Irwansyah, mantan wartawan Bintang Indonesia mendorong para sineas bereaksi. Akan tetapi, alih-alih memperbaiki mutu film yang mereka bikin, kebanyakan sineas mengkambinghitamkan banjirnya film impor. Protes ini didengar. Di zaman Menteri Penerangan Mashuri, keluar Surat Keputusan Menteri Penerangan No. 51/Kep/Menpen/1976 yang mewajibkan importir film merangkap menjadi produser sebagai syarat untuk memasukkan film dari luar negeri.
Kebijakan ini terbukti meningkatkan jumlah produksi film nasional. Pada 1977-1978 Direktorat Film Departemen Penerangan mengeluarkan 100 surat izin produksi film. Rupanya, importir yang jadi produser film dadakan ini tak mau melepaskan usahanya mengimpor film luar negeri. Walhasil, film-film yang bermunculan lumayan banyak meskipun sangat memprihatinkan jika dinilai dari segi kualitas.
Data ini seperti yang dikutip Ade Irwansyah dari bukunya Salim Said, Profil Dunia Film Indonesia (1991).
Pergulatan antar film lokal versus film impor semakin meruncing dan berakhir dengan hancur-leburnya kreativitas sineas-sineas Indonesia. Peristiwa ini terjadi pada klimaksnya tahun 90-an. "Jaringan 21" atau "Cineplex 21" yang menjadi distribusi dan pemasok fillm bisa disebut telah berhasil menghancurkan imej perfilman nasional. Dengan alasan kualitas, film-film nasional sama sekali tidak mendapat jatah di bioskop-bioskop elit yang dulu dirintis Subentra Grup ini. "Kelas B" menjadi label perfilman nasional. Genre-nya yang populer ketika itu adalah komedi-horor-erotis.
Sebenarnya krisis ini bukan hanya disebabkan hegemoni film-film Amerika saja. Namun, otoriternya pemerintah yang melarang ini-itu dalam produksi film juga ikut andil. Plus sisi komersil para produser yang over dilengkapi dengan sineas-sineas zaman itu yang kebanyakan berbekal pengalaman saja. Mayoritasnya mereka bukan yang terjun di dalam kancah perfilman setelah melewati jenjang pendidikan tentang sinematografi.
Perfilman Indonesia mulai bangkit dari keterpurukan dan mulai menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Memang pada paceklik produksi yang terjadi tahun 1998-1999, hanya empat judul film yang dikeluarkan. Tapi tahun-tahun berikutnya, jumlah film yang diproduksi semakin meningkat jumlahnya, kecuali pada tahun 2001 hanya diisi oleh tiga judul film.
Tahun 2000-an, banyak sekali film-film baru yang diproduksi oleh insan perfilman Indonesia. Ironisnya tiga dari empat film Indonesia adalah film horor atau film hantu, seperti Sundel Bolong, Kuntilanak 2 dan Pocong 3. Sedangkan sisanya adalah film drama komedi, Get Married.
Krisis Ideologi Perfilman
Imron Supriyadi seorang jurnalis lepas berdomisili di Sumsel menganalisa bahwa baik pihak LSF (Lembaga Sensor Film), para sineas dan insan perfilman Indonesia bisa dikatakan sedang mengalami krisis ideologi. LSF yang dibawahi pemerintah harus mensensor film berdasarkan paham atau ideologi yang kaku dan doktrinal.
Para sineas yang kerjaannya menulis naskah sebenarnya juga berada di posisi yang dilematis. Tuntutan idealismenya untuk menghadirkan sebuah film yang mendidik dan mencerahkan mengalami tarik menarik dengan tuntutan komersil para produser atau Production House (Rumah Produksi).
Pada akhirnya, sineas dan Rumah Produksi tidak berani mengambil resiko berurusan dengan pemerintah. Hasilnya bisa dibayangkan dengan rendahnya mutu dan kualitas film Indonesia jika ditilik dari sisi ideologinya.
Merupakan suatu hal yang tidak aneh kalau sepuluh tahun lebih dunia perfilman Indonesia sempat terpuruk. Karena salah satu penyebabnya adalah para produser dan rumah produksi lebih mengedepankan selera pasar, ketimbang moralitas.
Betapa tidak? Tahun 1992, film Ramadhan dan Ramona --yang menjadi film terbaik 1992-- adalah akhir dari dunia perfilman. Sejak itu FFI terkubur hingga tahun 2003 karena konon "diserang" habis oleh sinetron televisi. Ini alasan selain dari sisi komersil. Tetapi kenyataannya berkata lain. Keduanya rupa-rupanya bisa berjalan secara sinergi, walaupun dari segi bisnis tetap berkompetisi.
Yang menarik dari analisa Garin Nugroho dalam artikelnya Film Indonesia, Antara Pertumbuhan dan Kecemasan (1993) adalah krisis 1992 ini --setelah krisis pertama pada tahun 1957 dengan penutupan studio Usmar Ismail-- tumbuh seperti yang terjadi di Eropa tahun 1980. Yakni tumbuh dalam tautan munculnya industri cetak raksasa, televisi, video dan radio. Celakanya di Indonesia dasar struktur dari keadaan tersebut belum siap.
Sedangkan faktor lain yang mempengaruhi rendahnya mutu film nasional salah satunya adalah rendahnya kualitas teknis karyawan film.
Lebih parah lagi, kata Imron, film-film Indonesia sama sekali kalah berbanding dengan film-film India, Korea dan Jepang dari segi ideologi. Film-film nasional lebih lambat berjalan soal menaikkan mutu dan kualitasnya. Hal ini tidak bisa dibantah bahwa penyebab utamanya adalah faktor tekanan dari pemerintah dan kultur sosial-budaya bangsa terkait.
Di India, Korea dan Jepang telah menjadi hal biasa untuk melakukan kritik langsung terhadap pemerintah. Tidak peduli yang dikritik adalah raja, perdana menteri, polisi, tentara atau yang sepadannya. Sedangkan di Indonesia hal tersebut masih dikatakan tabu atau absurd. Contohnya adalah film Marsinah-nya Slamet Raharjo (2001) yang dianggap mengganggu wibawa TNI dan memprovokasi rakyat untuk kritis terhadap aparat pemerintah. Akhirnya, film itu dilarang beredar.
Tapi, inilah Indonesia. Dengan sistem dan pola pikir sebagian pemegang kebijakan negeri ini yang belum berubah akan mengakibatkan masyarakat Indonesia juga tidak pernah terdidik untuk menonton film yang berkualitas secara ideologis.
Maka pada masa Orba, film-film garapan Garin Nugroho seperti Daun di atas Bantal dan Pasir Berbisik juga dilarang. Sementara pada era reformasi pun, film-film Garin Nugroho juga tidak laku di beberapa daerah. Tetapi, siapa menyangka justru film-film Garin mendapat penghargaan di luar negeri sementara negeri sendiri tidak memberikan penghargaan.
Olahan data dari artikel berjudul Fragmented History (2006) yang disarikan dari buku Kamera Subyektif Rekaman; Perjalanan dari Sinema Jemuran ke Art Cinema (2006) karya Gotot Prakosa menyebutkan fakta menarik. Tekanan kuat pemerintah dan komersialisasi para produser bukan menjadi penghalang para sineas untuk terus berkarya dan berkreasi menurut ideologi perfilman yang mereka pahami.
Mahasiswa sinematografi LPKJ (Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta) sekarang IKJ (Institut Kesenian Jakarta) membentuk komunitas film mini pada tahun 1973 yang disebut "Sinema 8". Program kerja grup ini menghasilkan film-film independen atau eksperimental untuk berkuasa atas ruang karya yang dikekang oleh pemerintah dan produser ketika itu.
Secara kualitas, mulai akhir tahun 1990-an film Indonesia banyak didominasi oleh film-film panas seperti Bebas Bercinta, Gairah Malam yang Kedua, Gairah Terlarang atau Permainan Binal dan lain-lain. Film-film panas ini biasanya mendompleng film-film silat atau horor. Bahkan ada pula yang menyajikan seks sebagai bahan sajian utama pada film itu. Walaupun sejatinya pada era 80-an, model film "esek-esek" ini sudah membaur dalam belantika perfilman nasional. Hanya saja belum termasuk kategori keterlaluan.
Kang Yayat sebutan Yayat R. Cipasang penulis artikel di sejumlah media swasta dan nasional mengamini hal tersebut. Bahkan tambahnya dalam artikel Selamat Tinggal Generasi Nurnaningsih! (2005), sejak zaman paska-kemerdekaan sebenarnya sudah muncul artis panas dalam film-film 17 tahun keatas.
Sebut saja, Nurnaningsih (alm.) yang sempat menjadi ikon bintang panas Indonesia era 50-an. Kemudian hampir setiap dekade ada saja yang memunculkan film-film berkualitas "rendah" plus para bintangnya yang seakan tidak pernah habis. Isinya hanya pengumbaran nafsu dan hasrat seksual tanpa dibarengi nilai-nilai moral yang bisa diinsafi. Fenomena menyedihkan ini semakin membuat rasa pesimis para pekerja perfilman yang peduli dan bercita-cita untuk menghasilkan film-film bermutu bagus.
Setelah "mati suri" dengan film-film panas yang meramaikan tahun 90-an, kini perfilman Indonesia telah bangkit dari kuburnya. Petualangan Sherina (2000) mampu mendobrak popularitas film nasional dengan gaya drama komedi musikal pada akhir tahun 90-an.
Bioskop-bioskop Cineplex 21 yang semula menolak keras film-film lokal lantas membuka pintu selebar-lebarnya bagi karya sineas-sineas muda Indonesia. Berturut-turut film semisal Ada Apa Dengan Cinta? (AADC?), Eiffel I’m In Love, Virgin, Heart, Arisan, Berbagi Suami, Jomblo, GIE, Mendadak Dangdut dan Get Merried memenuhi poster depan gedung-gedung jaringan bioskop kelas wahid itu.
Warna baru film Indonesia ditandai dengan hadirnya film-film Garin Nugroho. Masa generasi perfiman terdidik mulai hadir. Para sineas muda lulusan sekolah dalam maupun luar negeri ini berbekal pengetahuan film dan intuisi yang tajam. Garin misalnya mampu membaca apresiasi masyarakat akan film nasional dengan baik. Debutnya dalam Cinta Dalam Sepotong Roti (1991) membuat banyak kalangan tercengang. Film ini mendapat penghargaan Piala Citra dalam FFI (Festival Film Indonesia) tahun 1991 sebagai film terbaik.
Hingga kini Garin telah mengoleksi penghargaan yang ironisnya sebagian besar malahan didapat dari festival film internasional seperti filmnya Rindu Kami Pada-Mu yang menjadi terbaik se-Asia di Osian’s Cinefan Festival ke-7 di New Delhi, India, 2005 silam.
Sedangkan contoh lain film yang berkualitas dan diproduksi meluas serta diedarkan adalah Gie (2005). Nilai-nilai ideologis kuat sekali ditampilkan dalam sepanjang cerita. Isinya tentang kritikan mahasiswa di masa Orde Lama terhadap pemerintahan Soekarno. Setelah itu menyusul film-film lain seperti Berbagi Suami, Detik Terakhir, Ruang, Badai Pasti Berlalu dan lain-lain. Hal ini menurut Imron menunjukkan film Indonesia tidak lantas mati begitu saja menghadapi multi-problematika perfilman nasional.
Imron Supriyadi yang telah menulis kumpulan cerpen Sedang Tuhan pun Bisa Mati (2003) lebih lanjut menjelaskan bahwa tahun 80-an di televisi misalnya, masih ada dalam ingatan sinetron serial Aku Cinta Indonesia (ACI), Drama Losmen karya Irwinsyah (alm.), Rumah Masa Depan (Ali Shahab), Serumpun Bambu, Dokter Sartika dan Jendela Rumah Kita. Sedang dalam layar lebar, masih di tahun 1981, masyarakat disuguhi film Di bawah Lindungan Ka’bah karya Hamka, Nagabonar, Serangan Fadjar, Di Balik Kelambu, Arie Hanggara, Titian Serambut Dibelah Tujuh, Kembang Kertas, Cut Nyak Dien dan masih banyak lagi film yang memiliki pesan ideologis.
Di sisi lain, ideologi film-film Amerika begitu gencar dipropagandakan di Indonesia. Jaringan 21 tidak bisa dikesampingkan sebagai salah satu bagian dalam proses pemindahan ideologi ini. Hal yang dikhawatirkan adalah kultur dan budaya Barat yang kontras bisa jadi malahan merusak tatanan sosial dan moral bangsa Indonesia.
Akhir-akhir ini, bermunculan film-film genre horor yang jika dilihat dari segi ideologi kurang bertanggung jawab. Unsur komersil produser yang cenderung bermazhab "ide kacangan" terlihat jelas. Dalam hal ini, sineasnya hanya mengerjakan pesanan produser. Namun ironisnya, para penonton begitu lahap menikmati dan mengunyah "kacang" tersebut.
Rumor tentang disidentitas perfilman pun menyeruak kembali setelah dulu tahun 90-an pernah pula terjadi. Film-film ini kurang begitu mencerdaskan dan tidak ada nilai-nilai edukasinya. Film tersebut hanya sekedar tontonan yang menghibur semata, tidak lebih.
Tentunya harus diingat bahwa film, iklan dan sinetron sangat berpotensi guna menyusun sebuah opini publik. Bahkan tiga hal di atas bisa menjelma menjadi agama –meminjam istilah Jalaluddin rakhmat. Dengan peringatan ini, Imron yang juga pernah menjadi Ketua DPC Partai Nasional Banteng Kemerdekaan di Palembang menutup ulasannya.
Film-film horor Indonesia yang tercatat mendominasi industri perfilman tanah air antara lain Jelangkung, Suster Ngesot, Bangsal 13 hingga Pocong vs Kuntilanak yang akan tayang awal Novembar ini. Para sineas "mazhab hantu" ini sepertinya tidak kehabisan tema garapan untuk film horor.
Mari menyimak uraian Hikmat Darmawan, Redaktur Rumahfilm.org tentang lika-liku perjalanan film horor Indonesia dalam artikelnya Mengapa Film Horor (2) (2008). Menurut tulisan Wicaksono Adi dan Nurruddin Asyhadie dalam Paramarupa Film Horor Kita (2006 ), ada dua film yang bisa disebut sebagai film horor pertama Indonesia. Pertama, Tengkorak Hidoep (1941) dan kedua Lisa (1971).
Jika kita kembali ke pengertian paling dasarnya, bahwa film horor adalah film yang dirancang untuk menerbitkan rasa takut, maka film Lisa lebih memenuhi syarat sebagai film horor Indonesia pertama.
Adi dan Asyhadie menunjuk Jelangkung (2001, sutradara: Rizal Mantovani dan Jose Purnomo) sebagai penanda awal film horor jenis baru. Kedua penulis cukup jeli untuk mengenali bahwa film ini dipengaruhi oleh generasi film horor baru di Amerika, yaitu Scream (1996), dan di Jepang, Ringu (1997).
Referensi Jelangkung memang bukan lagi film-film horor Indonesia lama. Film-film horor Indonesia sebelumnya mengambil sumber cerita dari folklore dengan setting "kampung" (sang kuntilanak, misalnya, masih harus nangkring di atas pohon rimbun dan bukan ikut masuk lift). Sementara film-film horor generasi Jelangkung mengambil sumber cerita dari khazanah urban legend di kota. Sekian uraian dari Hikmat yang telah banyak berkiprah dalam dunia media dan pers sebagai editor, penulis buku dan lain-lain.
Lain halnya menurut Ilham Prisgunanto, salah seorang pemerhati film Indonesia, dalam tulisannya Film Nasional Indonesia Kehilangan Jati Diri (2002) yang dimuat Harian Sinar Harapan. Ia mengaku cukup resah dengan ideologi-ideologi baru yang dipasang oleh dunia perfilman Indonesia sekarang ini.
Jika Imron di atas merisaukan krisis ideologi, maka Ilham di sini mengkritisi ideologi-ideologi baru yang telah ditelurkan sineas-sineas muda berbakat Indonesia.
Adegan-adegan yang terkesan destruktif bahkan vulgar kerap dipertontonkan tanpa mengindahkan nilai-nilai etis ketimuran. Lebih lanjut ia juga mengkritik salah satu adegan yang ada dalam film Ada Apa Dengan Cinta dimana ketika itu Rangga (Nicolas Saputra) mencium Cinta (Dian Sastrowardoyo) di bandara.
Kasus lain diungkap oleh Kang Yayat dalam artikelnya Selamat Tinggal Generasi Nurnaningsih! (2005) tentang film Bernapas dalam Lumpur (1970). Insan perfilman nasional saat itu sedang gencar-gencarnya membuat konsep dan berpikir keras untuk membuat film yang berkualitas. Namun, tiba-tiba iklim yang kondusif itu dibuyarkan dengan kehadiran film yang dibintangi Suzanna tersebut. Tragedi yang identik sama juga pernah terjadi di era 60-an.
Sejak itulah ide membuat film berkualitas hanya sebatas pembicaraan dalam seminar dan diskusi terbatas. Pada 1989, Indonesia kembali heboh dengan kehadiran film Pembalasan Ratu Laut Pantai Selatan (PRLPS). Yurike Prastica yang menjadi bintang utama konon –maaf-- berbugil ria dengan bintang film asal Amerika.
Belakangan, ketika sineas muda tengah berjuang memproduksi film berkualitas tiba-tiba diusik dengan kehadiran Buruan Cium Gue (2004), produksi Multivision Plus. Peredaran film ini mendapat resistensi dari masyarakat dan akhirnya ditarik dari peredaran.
Kesimpulannya, baik Ilham maupun Yayat khawatir jika perfilman Indonesia nantinya lolos dari krisis ideologi lalu terjerembab ke krisis lainnya. Hal yang digarisbawahi oleh keduanya adalah perlunya memperhatikan batasan-batasan kultur asing yang tidak perlu ditransform secara mentah-mentah ke ranah film nasional
Ideologi yang Ideal
Membincangkan ideologi yang pas untuk perfilman nasional akan menarik jika mengamati tulisan Gatot Arifianto Mengembalikan Kultur Perfilman Indonesia (2007) yang disarikan dari Harian Bernas. Terlebih dahulu perlu diingat perkataan Errol Morris, “Film adalah media bebas berekspresi, suatu karya yang menggabungkan ilmu pengetahuan, filosofi dan puisi dalam suatu proses atau sebaliknya, yang bisa membangun dan membudayakan suatu negara."
Seperti yang dikemukakan empu film-film menegangkan, "Master of Suspense" Alfred Hitchock, film yang bagus adalah yang mampu memikat penonton dan mampu membuat mereka berkata setelah keluar dari bioskop.
Menjadi harapan bangsa ini bahwa sineas-sineas muda film-film indie, eksperimental, underground atau yang di atasnya bukan sekedar "obor-obor belarak" belaka. Tetapi senantiasa menunjukkan eksistensinya tentang wajah perfilman Indonesia yang baru, menantang, yang bisa dipertanggungjawabkan secara artistik, estetik dan moral.
Rumusan ideologi ini tidak hanya menyampaikan pesan-pesan propagandis pemerintah, namun harus kritis dan cerdas. Juga memenuhi tuntutan moral serta etika bangsa.
UU Perfilman yang dirasa akan menghambat laju perfilman nasional boleh digugat secara hukum. LSF yang bergerak atas dasar UU Perfilman pun harus arif dan bijak dalam melaksanakan tugasnya. Insan-insan perfilman juga layak memperhatikan kultur maupun norma-norma yang berlaku di bangsa ini. Kemajuan sinematografi para sineas Indonesia seharusnya disesuaikan dengan budaya Tanah Air.
Representasi Film Islami
Tapi, sekali lagi, benarkah film dapat menyebarkan sebuah ideologi? Tidak sesederhana itu. Dalam pengembangan makalah Dunia Santri dalam Film (2008), Ekky Imanjaya menyebutkan nama Christine Gledhill dalam Genre and Gender; The Case of Soap Opera (Stuart Hall, 2003) yang bertanya: "Realita yang mana? Realita apa? Menurut siapa?" Bagi Gledhill, bukan dunia materi yang membawa makna, tapi sistem bahasa atau sistem apa pun yang kita gunakan untuk merepresentasikan konsep kita. Manusia sebagai aktor sosial-lah yang membangun makna.
Setelah film Ayat-Ayat Cinta (2008) sukses, banyak sekali film religius bernafaskan Islam yang beredar --baik yang menampilkan kebaruan atau sekadar mendompleng kelarisannya saja. Apakah semuanya layak dimasukkan dalam kategori film islami?
Pembicaraan tentang definisi film Islam, film islami atau film dakwah seolah tak berujung. Mungkin bisa kita ambil contoh beberapa film untuk menggambarkannya. Misalnya Sang Murabbi, Doa yang Mengancam, Kantata Takwa, Ayat-Ayat Cinta, dan terakhir Laskar Pelangi. Masing-masing berusaha menampilkan wajah Islam dalam perspektif yang berbeda. Bahkan untuk film Laskar Pelangi (Andrea Hirata, 2008), Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menyatakan bahagia sekaligus sedih menyaksikan film ini.
Dia sedih karena ada sekolah Muhammadiyah yang bernasib seperti itu, bahagia karena ada sosok seperti Pak Harfan dan Bu Muslimah. Dia pun tak segan mengajak segenap warga Muhammadiyah dan para pejabat, termasuk presiden, untuk menontonnya agar bisa mengambil pelajaran darinya.
Film-film yang merepresentasikan umat Islam dan aplikasi ajarannya --tidak hanya syariat, tapi juga nilai-nilai seperti etika, kebersamaan dan gotong-royong-- secara langsung atau tidak langsung adalah sebuah media jihad dan perjuangan.
Almarhum Nurcholis Madjid pernah menyatakan bahwa dimensi jihad tidak hanya jihad melawan (fight against), tetapi yang juga tak kalah penting adalah jihad untuk (fight for). Akhirnya film Rindu Kami pada-Mu (Garin, 2005) merepresentasikan jihad melawan ideologi Orde Baru secara halus. Sang Murabbi (2008) merepresentasikan jihad membentuk syakhsiyah islamiyah syumuliyah (kepribadian Islam yang sempurna), sebagai marhalah awal dalam membentuk masyarakat dan negara yang islami dengan prototipe-nya sang karakter utama.
Dari komunitas Islam sendiri, berapa banyak film Indonesia yang bercerita tentang Islam dan umatnya yang beragam? Karena itu, saat Ayat Ayat Cinta difilmkan, penonton muslim berbondong-bondong ke gedung bioskop karena merasa keislaman mereka diangkat ke layar perak. Ada kerinduan di hati mereka. Tapi penonton juga cerdas. Mereka tahu ada juga film-film yang tidak sungguh-sungguh bercerita tentang Islam. Dan hasilnya mereka pun tidak menontonnya. ~

 

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia