Pencarian pada:
 
Detail Cantuman Filmografi
Judul Film : Cinta tapi Beda
Sutradara : Hestu Saputra, Hanung Bramantyo
Produser : Raam Punjabi
Pemeran_utama : Agni Pratistha, Reza Nangin
Pemeran_pembantu : Choky Sitohang, Jajang C Noer, Nungky Kusumastuti, Suharyoso, Sitoresmi Prabuningrat, Ratu Felisha, Agus Kuncoro, Hudson Prananjaya, Leroy Osmani, Ayu Dyah Pasha, Aris Gepeng, Rara Nawangsih, August Melasz.
Keterangan : Multivision Plus Pictures, rilis pada 27 Desember 2012
Deskripsi_fisik : Film berwarna; durasi 96 menit
Media : Video
Subjek : Drama
Bahasa : [ Tidak dicantumkan ]
Penulis_skenario : Taty Apriliyana, Novia Faizal, Perdana Kartawiyudha
Penulis_cerita : Hanung Bramantyo, Cerita Hestu Saputra
Penata_artistik : Benny Lauda
Penata_suara : Satrio Budiono
Penata_musik : Erros Chandra
Penata_foto : Batara Goempar Siagian
Penyunting : Wawan I Wibowo
Soundtrack : [ Tidak dicantumkan ]
Judul_lain : [ Tidak dicantumkan ]
Catatan : Cerita berasal dari tulisan di blog Dwitasari berjudul Cintaku, Cintamu, Beda! Jumat malam (4/1/13) Habib Abdurrahman Assegaf dari Gerakan Umat Islam Indonesia diajak nonton, karena siangnya ada demo di Tasik yang menuntut film itu dirutunkan dan disetujui oleh bioskop 21 dan polisi setempat. Hasilnya: diminta ada tambahan subtitle di akhir film yang mengambil dari fikih Islam tentang perkawinan campur. Protes dan demo juga datang dari Badan Koordinasi Kemasyarakatan dan Kebudayaan Alam Minangkabau (BK3AM), Keluarga Mahasiswa Minang Jaya (KMM Jaya) dan Ikatan Pemuda Pemudi Minangkabau Indonesia (IPPMI). Mereka berpendirian tidak ada Minang yang Katolik. Penjelasan Hanung lewat twitter: tokoh utama perempuan bukan Minang, hanya tinggal di Padang. Petunjuk lain: pamannya orang Menado.
Sumber : Http://filmindonesia.or.id
Cahyo, berasal dari keluarga muslim taat di Yogja, bekerja sebagai chef di Jakarta. Cahyo sedang berusaha lepas dari kesedihan karena ditinggal selingkuh kekasihnya, Mitha. Ketika nonton pertunjukan tari kontemporer asuhan bibinya, dia jumpa dengan Diana, asal Padang, Katolik, mahasiswa jurusan tari dan tinggal di rumah pamannya, yang melakoni kawin campur agama. Ia nikah dengan wanita muslim. Diana-Cahyo memutuskan berpacaran walaupun berbeda keyakinan. Mereka bahkan serius melanjutkan hubungan hingga jenjang pernikahan. Diana was-was ketika Cahyo mengajaknya menemui orangtuanya. Ibu Cahyo bisa memahami cinta anaknya, tapi Pak Fadholi tidak akan merestui Cahyo. Bila Cahyo memaksa, Pak Fadholi memilih memutus ikatan tali keluarga. Ibu Diana juga keberatan dengan pilihan putrinya. Kakak-kakak Diana, telah meninggalkan keyakinan mereka setelah menikah. Ibu Diana memaksa Diana mengikuti kehendaknya. Itu sebabnya, Diana akhirnya memilih kembali ke Padang dan menerima perjodohan dengan dokter Oka, lelaki pilihan ibunya dan seiman. Ia coba tutup hatinya untuk Cahyo Cahyo melewati masa terburuk dalam hidupnya. Pekerjaannya terbengkalai hingga dipecat. Ia juga dijodohkan oleh bapaknya dengan anak seorang lurah, kerabat jauh mereka Di Padang, Diana berusaha mencintai Oka, dan Oka berusaha membantunya melupakan Cahyo. Dua kisah terakhir ini berjalan paralel. Ada satu yang masih sulit dilupakan Cahyo maupun Diana, bahwa mereka sesungguhnya diikrarkan bukan karena keyakinan, tapi karena cinta. Oka menyadarkan ibu Diana, sementara ibu Cahyo akhirnya merestui anaknya dan menyadarkan suaminya.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia